Darsul Insya’ : Salah Satu Nutrisi Kecakapan Berbahasa Arab

Tidak pernah heran, jika kita mendengar salah satu alumni Pondok Modern Darussalam Gontor sangat cakap bercuap cuap berbahasa asing. Baik itu, bahasa Inggris ataupun bahasa Arab. Tidak hanya, sekedar berbicara untuk hiwar keseharian. Tapi, juga dalam hal berpidato, menyalurkannya dalam berbagai skill; seperti menyanyi, berpuisi, bercerita dan lain sebagainya.

image

Selain karena berbahasa Arab dan Inggris menjadi salah satu disiplin yang telah dihirup dalam keseharian. Bagaikan udara bersih, yang menjadi suatu kebutuhan primer dalam hayat. Tidak bernafas, maka tidak akan bisa hidup. Sama halnya berbahasa Arab dan Inggris di Gontor. Tidak ingin melatih berbicara dengan dua bahasa ini, maka siap siap lambat dan tertinggal dengan disiplin ilmu yang ada. Melihat, bahwa kurikulum yang didasarkan di pesantren ini menggunakan bahasa Arab dan Inggris sebagai dasarnya. Seluruh santri di Gontor sangat memacu dirinya masing masing, untuk selalu bisa menutrisi agar bisa bercakap diri. Salah satu kunci agar bisa memompa. Minimal, berlatihlah untuk mengaplikasikan kosakata yang telah didapat, dalam perbincangan keseharian.

Baik hanya satu atau dua kosakata yang didapatkan dalam sehari, jangan ragu untuk meletakkannya dalam satu kalimat. Kosakata itu akan melekat dalam otak, jika kita berlatih untuk memaknainya dalam kalimat.

Dahulu, Pak Kiai sering kali menasehati santri santrinya. Agar supaya tidak malu, saat berbicara. Agar lebih percaya diri saat berbahasa asing. Lebih baik percaya diri untuk berbahasa asing meskipun salah. Daripada percaya diri tapi tidak punya apa apa, malah tidak bisa sama sekali untuk bicara. Dengan bermodal beberapa kosakata yang didapatkan dalam sehari. Ataupun hanya berlatih dialog, menyambung silaturahmi. Kecakapan berbahasa itu harus selalu diberi nutrisi. Maka, lahirlah pelajaran Insya‘ sebagai penunjang kemampuan santri santri dalam berbahasa Arab. Bagaikan nutrisi, jika rajin dan rutin memupuknya, tumbuhan akan subur, dapat berbunga dan berbuah. Akhirnya, dapat dinikmati dan bermanfaat bagi penikmatnya.

Pelajaran Insya’ dijadikan materi primer dalam KMI. Pelajaran ini, menjadi kebutuhan penting bagi setiap santri dan guru gurunya. Santri, tidak hanya berlatih dalam berbicara. Tapi juga dituntut untuk piawai dalam mengolah kata sesuai strukturnya. Baik secara kaidah nahwu dan shorf. Jika keduanya sudah tercukupi, maka alangkah lebih baiknya ditingkatkan dengan kemampuan asaalib balaaghiyah-nya. Materi Insya‘ biasanya didapatkan langsung dari wali kelas. Sengaja, karena seorang wali kelas sendiri memiliki kedekatan erat dengan muridnya. Dengan ini, diharapkan agar setiap murid memiliki dorongan lebih dalam meningkatkan kemampuan berbahasa Arab.

Sistematika dalam pengerjaan Insya’ sangat mudah. Santri santri menuliskan suatu prosa atau esai singkat berbahasa Arab sesuai dengan judul yang telah ditentukan dalam syllabi kurikulum KMI. Sangat dianjurkan, dengan membubuhi kosakata apa saja yang telah didapatkan. Santri dilatih untuk mengolah kata dalam kalimat, dan juga mengingat mufradat yang telah diarsipkan dalam kamus hariannya. Kemudian, seorang wali kelasnya harus telaten dan penuh teliti dalam mengoreksi Insya’. Tidak hanya sekedar koreksi, coretan, tanda tangan. Tetapi juga dibutuhkan jiwa yang besar, agar terwariskan ilmu yang didapatkan. Wali kelas, segera mengembalikannya kepada setiap tangan muridnya. Kemudian, dengan adanya coretan, koreksi, atau sekedar nota dalam tulisan. Murid murid melakukan pembenahan. Dan pelajaran Insya’ biasanya diajarkan dua sampai tiga kali seminggu di dalam kelas. Belum lagi, ditambah dengan program Insya’ Usbuu’iy atau mingguan. Maka dengan ada disiplin dan ketekunan ini. Seorang santri dapat faham dan mengerti, bahwa belajar berbahasa tidak bisa hanya sekali dua kali. Harus selalu mau mengulang dan berpraktisi. Tidak boleh letih berlatih, dan bosan membuka kamus. Bahkan, jika perlu juga harus selalu percaya diri untuk berinteraksi.

Dalam mempelajari suatu hal, tidak bisa instan, tidak bisa langsung menjadi ahli. Selalu dibutuhkan ketekunan, kesungguhan, dan selalu beriringan doa yang dilangitkan. Salah dalam berkata, terpeleset dalam berbicara sudah sangat biasa. Asalkan tetap mau berlatih dan memperkaya diri. Semuanya akan ahli pada bidangnya.

Jadi, jangan heran. Alumni Gontor yang bisa berorasi dan berpidato di depan khalayak publik saat ini. Dahulu, juga mempunyai tingkatan yang sama seperti santri yang baru belajar berbahasa pada tingkatannya. Masih mengikuti muhadatsah yaumiyyah, atau mengerjakan Insya’ Usbuu’iy.

Hanya saja, mereka semua mau berlatih, berusaha lebih keras, dan memperkaya diri. Hingga akhirnya bisa tidak dikenal bahwa mereka bukan orang negeri ini asli.